Friday, June 3, 2016

Post Pasca-Selesai-UKK

Pesta Emas baru saja selesai dua minggu lebih 6 hari yang lalu.

Jujur, banyak dari kami, panitia, hopeless banget sama acara ini - bahkan nyaris mau digagalin karena banyak masalah teknis yang nggak disangka bakal kejadian. Gue sendiri yang tadinya bukan siapa-siapa di Pesta Emas, akhirnya ikutan jadi SPG mendadak tiap hari dan tiap weekend (Sabtu dan Minggu) di depan Gereja. Motto gue adalah, mau ada yang beli, mau nggak ada, kalo gue masih nggak punya gebetan, ya udeh, sama ajeh.

Hehehe, tenang. Gue nggak se-pengen kucing yang berhasrat ingin kawin itu, kok.

Uhuk.
.
.
Gue mengakui bahwa di Pesta Emas gue kurang berkontribusi. Selain jualan, apa lagi, sih, yang gue lakukan? Menangisi nasib diomelin bu Ekonomi? Meratapi diri nggak bisa godain abang bajaj lantaran gue punya "mini"? Menunggu jodoh yang datangnya nggak pasti?

Ketika yang lain disibukan dengan buku acara, tiket, poster, jualan tiket, keliling kelas, hubungin sponsor, ngurusin perlengkapan acara, gue di sini hanya berdiam diri, duduk manis, dan nggak berhenti-hentinya mempertanyakan ke orang-orang, "APA YANG HARUS GUE KERJAIN YAOLOH?????!"

Dan sekarang gue malah ngoceh panjang lebar, rasanya nggak layak banget, sih.

Tapi, emang bener, kan? Lo pasti ngerasa seperti orang paling nggak kerja ketika yang lain sibuk ngurusin tugasnya masing-masing. Di sini, gue menangkap bahwa jadi gabut di tengah manusia sibuk itu ternyata nggak enak. (Jadi orang yang dikempit abang-abang bau ketek dan kelamin sewaktu di Angkot juga nggak enak, guys.)

Omong-omong tentang gabut, kalian pasti tau gambut itu apa, kan? Tanah gambut.

Gabut dan Gambut dahulu pernah menjalin hubungan kakak-adik yang terlarang. Namun, akhirnya Gambut sadar bahwa Gabut terus-terusan bermanja-manja dengan si Marmut. Setiap kali Gabut menanam bunga matahari, bunganya akan dibuang kemudian bijinya akan dikasih ke si Marmut. Hal ini membuat gambut menjadi sedih dan kesal, sehingga si Gambut akhirnya memutuskan untuk berkelana keliling dunia mencari mangsa baru.

Nih buktinya:
GAMBUT HIJRAH KE JERMAN!!!!

TRANSYLVANIA, GAES!
Sekarang, udah tau kan, kenapa Hamtaro suka makanin biji bunga matahari? Ini semua karena si Gabut mengurbankan kakaknya sendiri, si Gambut! Tapi, ya, nggak apa-apa, sih, toh semuanya jadi terkenal tiga-tiganya. Anjay!

Nilai moralnya ya, kalau sakit hati, jadilah kreatif dan produktif seperti si Gambut, dia keliling dunia dan bermanfaat bagi semua orang karena zat yang dia berikan. Aw. Coba kalo dia ngegalau di rumah, makan indomie, hujan-hujanan, nangis sambil makan kacang garuda, terus main gaple sama tetangga? Nggak bakal dia jadi trending topic bagi seluruh kehidupan botani di dunia.

Astaga, 2 bulan lebih nggak nulis konten, gue semakin kompeten ya garingnya. Semoga ada lomba orang paling krenyes sedunia, ya! Pffft.

Here's Hamtaro to make your bibir melengkung aw.
Ngomong-ngomong,

Semakin ke sini, gue semakin melihat kemalasan yang terpancar dalam diri gue menjadi terang benderang kayak jidat elsa.
widih mirip uga ya ama gue
Belom pernah liat Elsa gerai rambut+no-makeup+kacamataan kan?
Gue ngomong apa tadi? Oh, gue semakin males. Selama ulangan umum berlangsung, entah apa yang gue pikirkan, gue selalu nunggu sampai jam 10 malam dulu baru belajar dan akhirnya tidur cuma 3 atau 2 jam bahkan setengah jam. Gue nggak ngerti lagi gue sebenernya belajar apa kerja, sih di Mangga Besar. (eh)

Hadeh, bukannya males, sih. Gue cuma nunggu waktu yang tepat aja. (bisa ae, mba, ngelesnye.)
Lagian, jodoh aja nggak tepat waktu, kan datengnya? Meh.

Apalagi, UKK diadakan setelah Pesta Emas selesai, rasanya gue masih belum puas dan pengen ngulang Pesta Emas lagi sampe gue puas. Gue emangnya nggak gampang puas, makanya susah puasin gue. (?)
Ya, tapi, apapun yang terjadi kemarin, gue tetap senang! Apalagi kerja keras panitia yang nggak henti-hentinya nelen malu demi dapat dana buat jalanin acara yang udah ketunda 2 tahun ini. Yeay!

Gue sendiri udah bilang kalo gue emang nggak bantu banyak di kepanitiaan. Yang gue lakukan hanyalah yang emang mampu gue lakukan. Ngamen, jualan, memberikan semangat, dah. Sederhana tapi gue harap bermakna bagi kalian yang kerjanya mati-matian. Khususnya Bogel, Ibu Lita, Ana, tim jualan, tim publikasi, semuanya deh!

Ingat post gue sebelumnya yang bikin gue pengen ngais-ngais tanah? Gue mau terima kasih juga ke Reinal karena udah rela gantiin si manusia-yang-membuat-gue-meledak dan membuat gue nggak usah susah-susah lagi nyari pengganti yang berbobot. Walaupun persiapannya cuma 1,5 bulan, you did your best, bro! Good job!

Aku tresno karo kowe, konco-konco ku. <3

Yap, dan itulah salah satu alasan gue nggak nge-blog dua bulan terakhir. Jangankan nulis blog, gue nulis catatan Ekonomi aja jarang demi acara sekolah tercinta ini! AW!

Sebelum ngamen, eksis dolo! (kurang Lou)

"Dasternya mas, mudah dibuka kalo kita mau.... ah..ah.."

Kenalin, pacarku yang slalu siap menopank q di qala zedih maupun zenank
Dan untuk kalian semua yang selalu menyempatkan diri buat baca blog aku dan terus-terusan mendesak aku buat ngepost! Aku senang! YEEEAY!

Salam girang-UKK-udah-kelar,

Theniarti Ailin

Saturday, April 2, 2016

Ijinkan Aku Meledak

Udah lima minggu gue nggak nulis blog, padahal janjinya setiap minggu mau keluarin satu kiriman terbaru. Huft.

Pernah gak kalian berasa kayak pengin duduk aja sendirian, nggak pengin ada orang lain, sedangkan ketika ada seseorang yang udah berhasil ngedeketin kalian bertanya, "Kenapa?" kalian nggak tahu mau jawab apa.

Gue kayak gitu barusan. Pikiran gue kosong, tapi gue tahu gue lagi bingung. Mata gue kosong, tapi gue tahu gue lagi memerhatikan orang-orang sekitar. Dada gue kopong, tapi gue tahu suatu saat mereka akan tumbuh dan berkembang.

Ups.

Selama di SMA, orang-orang mengecap gue sebagai wanita tidak tahu diri, kerjaanya di sekolah melulu. Rumah cuma tempat gue buat tidur. Sampai-sampai, gue ketiduran di pelajaran Ekonomi (gurunya dikenal killer. Aw). Perbuatan super (tidak) terpuji inilah yang membuat sang guru jadi terpancing emosi dan akhirnya ia memuntahkan omelannya di hadapan seluruh kelas.

Gue jadi merasa spesial. Yang salah gue, yang diomelin satu kelas.

Boleh juga ya skill ketidak-tahu-dirian gue?

Omong-omong spesial, Martabak Spesial kenapa selalu mahal, sih? Padahal kodrat Martabak Spesial dengan Martabak lainnya kan sama. Mereka semua sama-sama seksi, sama-sama lezat, sama-sama membuat manusia bergairah, tapi mereka dibedakan berdasarkan harga. Gue menentang kasus peranaktirian ini! Gue tidak terima. Juga, mengapa namanya Martabak Spesial? Semua martabak itu spesial di mata gue. Haduh, bagaimana sih? Apakah mereka, para abang martabak, tidak berdiskusi dahulu ketika sedang menetukan nama-nama Martabak? Ingin kucium mereka satu per satu rasanya.

Sudah jarang menulis blog, guepun berangsur semakin garing. Bagus, bagus.

"Jangan mentang-mentang kamu selalu berjualan untuk sekolah kamu bisa bersikap seenaknya, ya! Kamu boleh ikut banyak  organisasi, namun kamu harus mampu mengatur waktu! Jangan belagu seperti ini."

Itu kata-kata bu Ekonomi ketika dia omelin gue. Sesungguhnya, kata-kata itu masih berbekas di mana-mana. Rasanya sakit banget dibilang kayak gitu, karena gue anaknya baperan jadi sakit aja gitu dibilang gitu. Banyak gitu ya "gitu"nya.

Ibaratnya gini, gue jualan juga buat sekolah, omelan guru gue terima, namun kenapa mereka tidak bisa menerima rasa kelelahan gue walau cuma sekali?

Yah, gue salah sih tidur di kelas. Maaf, Bu. Saya tidak akan ulangi lagi, sekalipun, dengan guru lainpun tidak akan.

((siapa tahu aja si Ibu baca blog gue. Gak apa-apalah dijilat dikit. :p)
Selain gue dicap seperti itu, gue juga dicap sebagai orang yang penuh emosi akhir-akhir ini. Gimana enggak, kalau misalnya ada orang yang meninggalkan tanggung jawab dan melupakan komitmennya begitu saja, apa lo nggak bakal kesel walau hanya sedikit?

Gue kasih kasus nih.
H-400 (kira-kira)
A: Gue mau dong jadi peran utama!
(Setelah itu si A mendapatkan peran utamanya, namun ia jarang latihan dikarenakan ujian, semuanya memaklumi itu. Namun, tiba-tiba...)
A: Gue keluar aja, deh. Peran gue diganti aja.
K: Kenapa?
A: Gue udah nggak niat.
K: Abis UN aja latihannya.
A: Gak mau, ganti aja orangnya. Gue udah nggak niat.

Kalau lo akan bilang "Nggak niat." di akhir, kenapa lo bilang mau jadi peran utama di awal? Lo tahu nggak itu nyebelinnya juara banget.

Gue, yang tadi punya respek tinggi sama orang itu, respek gue jadi turun hingga 95%. Dia pikir nyari peran pengganti gampang? Gue aja nggak dapet-dapet pacar sampai sekarang! (Hah.)

Dari sini, gue belajar. Nyari pacar itu nggak perlu yang ganteng mukanya. Cuma perlu yang mau tanggung jawab dan mau berkomitmen.

Sial, kenapa gue ngomongin pacar mulu, sih!?!?!??!?!?!?

Penuh amarah,


Theniarti Ailin

Sunday, February 21, 2016

Mangap di Goethe Institute

'sup guys!!!!

Sup ayam.

Haha, lucu.

Ngomong-ngomong sup ayam, legal gak sih bikin sup ayam tapi pakai roy*co rasa sapi? Hm.

Dua minggu yang lalu, gue dan teman-teman pergi mengunjungi Goethe Institute atau semacam institusi Jerman yang ada di Indonesia. Setahu gue di indonesia ada 3. Di Surabaya, di Bandung, sama Jakarta. Oh, denger-denger mereka mau bangun satu gedung lagi.

Eh pas gue mau denger lebih lanjut, gue terbangun dari tidur. Ternyata, itu semua hanya angan-angan.

Usaha ngelucu banget ya, Lin?

Awalnya, gue pikir ini bakalan jadi acara yang super-duper-seru. Di bayangan gue, acara ini bakal ngebahas segalanya tentang Jerman. Di dalam otak gue yang ukurannya gak besar-besar amat itu tebersit pikiran bahwa acara di Goethe ini bakalan menjual berbagai macam makanan serta jajanan murah khas Jerman.

Namun, lagi-lagi itu semua hanya angan-angan.

Ketika gue sampai di sana, harapan gue mulai pudar perlahan-lahan.

Pas udah nyampe dan ngeliat gedungnya kayak apa, ke-excited-an gue berkurang sekitar 0,98209737%. Bukan karena gedungnya kurang tampan di mata gue, tapi karena satpamnya gak senyumin gue tapi malah senyumin yang lain. Gmn gq bt cb!!,,,,

Setelah itu, gue dan kawan-kawan langsung masuk deh ke dalem Goethe. Di depan pintunya ada peraturan-peraturan tertentu. Salah satunya mungkin berbunyi, "Kalau anda tidak fasih berbahasa Jerman, lebih baik pulang. Atau jika tidak diberikan ijin pulang, silahkan bunuh diri. Tempatnya udah disediakan. :)"

Nggak deng, gue bahkan nggak baca isinya apaan. Mungkin dilarang pipis sembarangan.

((Emang, generasi muda sekarang tuh males banget membaca!))

Ok.

Sepatu guepun dengan anggunnya menginjakan dirinya di lantai-lantai Goethe. Gue merasa bangga sekali kala itu. Serasa banget Jermanisme di sana. Sayangnya, sepatu gue bolong di bagian depan tengah dan udah mangap dikit.

Setelah merasakan aura kebanggaan, gue merasakan hawa gratisan yang sangat kuat di sana. Ternyata, oh ternyata!

Satu per satu peserta acara Goethe ini dikasih tas beserta isinya, lho. Ada pen, notes, majalah dalam bahasa Jerman, brosur dalam bahasa Jerman, pin dalam bahasa Jerman (tulisannya freund!), sayangnya gak ada mas-mas ganteng orang Jerman. Hiks. Gue tentu saja senang sekali kalau beneran ada.

Tapi, lagi-lagi, mbaknya nggak senyumin gue. Padahal gue udah ucapin, "DANKEEE SCHOOOOOOEEN, FRAUUUU!!" dengan senyum merana minta tas lebihan buat nyolong makanan kalau-kalau ada beneran tuh jajanan Jerman.

Walaupun gagal dapat tas lagi, gue tetep percaya diri melangkah ke bagian dalam gedung. Baru aja gue jalan 3 langkah, ada bule berseliweran di sekitar toilleten (toilet dalam bahasa Jerman). Mereka semua ngomong pakai bahasa Jerman yang kalau diterjemahkan mungkin begini...

OJ1: Bro, kebelet nieh.
OJ2: Sama, nieh.
OJ1: Kencing, yuk.
OJ2: Kagak ah, gue di depan aja ntar.

*kemudian blog ini diblock selamanya*

Setelah gue keluar dari toilet, hendak membeli jajanan Jerman yang gue pikir ada beneran, ternyata pikiran gue tidak pernah berubah menjadi kenyatan. Selesai sudah hidup gue di Goethe.

Ke toilet kelar, ngambil tas kelar, semuanya kelar, akhirnya masuklah gue ke saluran pembuangan  Auditorium Goethe. Dan lagi-lagi, gue pikir bakal ada banyak kebudayaan yang ditampilkan di sana. Macem festival budaya gitu, deh.

Lagi-lagi lagi-lagi, gue salah tafsir.

Pertama-tama, gue disuguhi oleh penampilan tari tradisional (entah dari daerah mana, aku lupa. Pokonya bukan tarian tradisional Jerman.) Kemudian, MCnya keluar dan ngomong dalam bahasa Jerman. Yang gue ngerti cuman, "Guten morgen, was machst du?" Artinya met pagi pha khabar. Dah.

Gue pikir abis sambutan dalam bahasa Jerman ini selesai, penderitaan gue di sini bakalan habis, ternyata enggak. Sepanjang acara, gue dicekokin pidato-pidato yang gue nggak mengerti sama sekali apa artinya. Kalau ada yang naksir gue di sana dan ngeliatin gue terus-terusan  dan kemungkinan besar gak ada yang akan melakukan itu, mungkin dia akan menemukan gue mangap terus- menerus selama acara 4 jam non-stop itu.

Namun, penderitaan gue segera hilang ketika makan siang pun akhirnya datang. Yesh.

Btw, walaupun gue terbaca sperti tidak menyukai acaranya, gue sangat mengagumi anak SMA yang bisa lolos olimpiade bahasa Jerman, bahkan pidato dengan PD di depan panggung. Mereka keren.

Andaikan aja, dengan nulis ginian gue juga dapet tiket gratis terbang ke Jerman.

Entahlah, gue gak ngerti..

Satu-satunya yang gue ngerti di sana

Ekspresi berusaha girang, namun gagal

Lagi ngantri photobooth 

Selfie sama oom bule Jerman

Sebenernya, gue pengen kasih lihat kalian hasil photoboothnya. Apa daya, aku bodoh. Photoboothnya hilang begitu saja. Dan file-file foto yang terselamatkan cuma segitu aja. Hiks.

Auf Wiedersehen,

Theniarti Ailin

Sunday, January 24, 2016

Uh.

Aku ditimpuk batu
oleh seorang tukang kayu,
uh.

Lemariku habis dilahap
oleh sekumpulan rayap,
uh.

Perhiasanku dirampas
oleh segerombol monyet buas,
uh.

Karyaku diplagiat,
oleh sejumlah tukang pahat,
uh.

Uh begini, uh begitu.
Dunia kerap salah
Di mata manusia yang
terus mengeluh

Karena memang ialah yang paling benar;
benar-benar tidak sabar.

Seolah sempurna adalah tolak ukur
untuk tetap bersyukur.

Seakan yang ada sekarang
adalah hal yang begitu kurang,

uh.

Sunday, January 10, 2016

Review Abal-Abal #3: Happy Birthday, Jeanne!

Ada pepatah ngomong,

"Janganlah dikau kapok melakukan suatu hal walaupun kelihatannya anda seperti tidak tahu diri."

Iya, yang ngomong pepatahnya adalah gue di masa depan.
Emang rayap doang yang bisa makan kayu? Manusia juga bisa!


#GAKTAHUDIRI 

Kemarin gue makan cantik di Social House, restoran nge-hits yang ada di sebelah timur Mall yang menurut gue besaaaaaaaaaaar sekali. Tentunya, pada kesempatan yang berharga ini, gue ditraktir teman gue karena dia baru saja bertambah tua dan legal untuk bisa melakukan...itu.

Itu lho, nyetir mobil. Kan udah boleh tuhhhhhhh hehehehehehehehehe.

Sebelum ke Social House, gue lenggak-lenggok dulu di rumah berhubung teman gue satu-satunya (dan dibayar) itu, Yessica mau mampir ke rumah gue dulu.

Dia bilang sih mau ke rumah gue pagian. Tapi, jadinya malah siangan gara-gara balada sol sepatunya yang copot itu. Kasihan sekali dia minta ditangisin.

DAN JUGA, kebetulan dia pake semacam wedges (?). Gara-gara sol sepatunya lepas, dia jadi harus jalan macem kangguru keseleo, kagak seimbang. Alhasil, tuh anak digoda sama abang-abang deket stasiun.

"NENG, ITU SEPATUNYA DILEM ATUH!"
"Neng itu sol sepatunya dikiloin kayaknya laku."
"YAH MALU DIA TUH LIAT MUKANYA MERAAAH KAYAK TOMAT UDAH MAU BUSUK."

Untungnya, dia sampai di sarang gue dengan selamat.

Dan untungnya juga, paman gue punya lem FOX yang warna kuning lengket mirip pinggiran keju di pizza (Ya, gue sebuta itu). Begitu dia sampai di rumah gue, sepatunya sudah selamat karena dilem. Walaupun itu sepatu malah jadi nggak berbentuk.

Memang lem paling berkualitas adalah lem biru, bro.

Lalu, dengan terburu-buru, kita berdua naik busway ke sana.

Saking gedenya itu Mall, kita hampir nyasar.

CK Ck ck.

Ketika sampai di restoran itu, gue menengok ke sajian menunya. Dan gue nggak bisa bayangin semua hal yang tertera di sana.

"Fettucini with creamy sauce and three cute cucumbers and whatelse i don even kno just go ask the chef ok bye"

Karena gue nggak ngerti apa-apa (terus, gue belom makan, gue laper banget waktu itu, gue harus mengira-ngira yang mana yang tepat buat mengisi tong isi naga, belut, harimau piaraan.), gue pesen nasi goreng. Iye, pret rais.

"Kimchi fried rice with pork and the gang yo."

Kira-kira tampilannya gini:

Iye, enak kok.
Ef Wai Ai, makanan gue dateng paling lama. Tapi, yang gue suka adalah pelayannya perhatian banget!!!!

"Dek, makanannya belom dateng ya? Kamu pesan apa?"
"Saya pesan nasgor, Mas."
"Oh, bentar ya saya tanyakan dulu."

Akhirnya, mas-masnya balik dan bilang, 'Saya udah tanyain, katanya emang lama. Tunggu bentar, ya."

ASTAGA, PERHATIAN BANGET KAYAK COWOK IDAMAN OMGOMG. YANG MAU PUNYA PACAR LANGSUNG AJA KE SANA GILE PELAYANNYA PENYAYANG PLUS PERHATIAN BANGET COY KYAKYAKYAAAA!!

Yang bikin lebih seneng adalah, gue dipanggil 'Dek'.

ASTAGAAAAAAAAAAA!!!!

Biasanya, gue dipanggil 'Ibu' soalnya. Shialan memang. Beranak aja belom, mas.
Kamu mau mas jadi ayah dari anak-anakku?

#napsu #janganditiru

Oh, ya tadi gue mau ngereview nasgornya Social House. Gue kurang minum aqua ya kayaknya.

Kalo orang yang laper banget dan butuh asupan gizi yang tinggi, mungkin gue nggak bakal saranin lo ke sini. Mungkin, gue lebih saranin kalian ke Krendang atau Jemabatan 5, karena porsinya jauh lebih banyak.

Tapi, kalo lidah lo lidah Ratu Elisabeth gue saranin banget lo ke sini. Tempatnya cozy, keren, fancy, banyak spot buat foto ala-ala instagram (yah dapet lah 100 likes), musiknya enak, mas-masnya perhatian, beh. This place got it all!

Makanannya sih standart, kayak pasta, dada ayam goreng (fried chicken breast), nasgor, babi panggang (grilled pork belly), dan masih banyak lagi!

Ngomong-ngomong, nasi gorengnya ada taste Koreannya gitu. Ditulisnya sih kimchi fried rice, cuma gue juga nggak ngerti rasa kimchi itu yang sebenarnya gimana, jadi ya bagi gue rasanya sama kayak reguler nasi goreng, cuma warna nasinya nggak coklat tapi mungkin agak merah kali ya. Apa gue buta.

Selain makanan, ada juga minuman namanya Homemade Grandma Ice Lemon Tea.

Kalo yang suka baper, mungkin bakal mewek karena inget neneknya. Jadi, mungkin Social House agak kurang tepat buat orang-orang baper.

Iye, emang lupa dicrop gambarnye.
 KETERANGAN:
Kuning-kuning a.k.a lemon melambangkan infinity yang artinya tiada berujung. (Iye, emang pas banget sama minumannya yang diminum berapa kali sedotpun kagak abis-abis.)
Coklat muda a.k.a kayu jati  tebu yang artinya perjalanan masih panjang dalam menghabisi minuman ini.
Coklat agak tua a.k.a teh artinya terkadang, perjalanan itu ada encer-kentalnya. Iye, persis minuman ini. Kadang diisepnya gampang, kadang diisepnya seret.
Hijau a.k.a daun mint artinya petualangan pasti nggak memberikan kita satu rasa doang. Kayak daun mint yang pedes dimulut, tapi bikin seger.
Putih artinya suci. (Gue nggak tau itu apaan, sumpah.) putih kental gitu. hiii.

BTW TEBUNYA ENAK LHO.

rate: 8/8.5

HUAHAHAHAHA

Minumannya cocok banget buat elo - elo pada yang nggak mau rugi kalo pesen sesuatu.

KARENA BANYAK BENER BUSet DAh.

Setelah selesai makan, akhirnya kita pada foto-foto dan potong kue.

CAPTURED MOMENT: click HERE

Pas potong kue, mas-masnya juga sweet lho. Mereka dateng bawa kue+nyanyi happy birthday to you gitu. Suara gue cempreng bener, makanya gue nggak berani taro suara gue di video di atas. HAHAHAHAAHAHha.

Dari situ gue tau kalau passion gue kayaknya dinyanyi.

Tunggu, tunggu. Kayaknya ada yang salah, deh.

Bodo amat.
Btw, ini foto-foto kemaren:

Iya, Jen seneng kok.

Jeanne: Woi, temenin gue tepuk tangan dong! 
Lantainya adem, guys.

Yang duduk calon pengganti Ratu Elisabeth

Carissa (tengah): Lo terlalu girang, Lin.

Ailin: Yaudah, gue cembetut aja.
Carissa: *tetep frustrasi*

Gue mesum otomatis.

Ailin: Jen, kumohon terimalah cintaku.
Jeanne: WOI! SATPOL PP! 

SEMBAH JEANNE!!!

Ketahuan dong yang paling feminim yang mana.

Makanin kayu karena enak

Gue paling girang.

17 tahunan bawa botol tupperware? Cuma Jeanne orangnya!

WOI KENAPA YANG KAKINYA GITU CUMA GUE BERTIGA WOI
HAPPY BIRTHDAY JEANNE! MAKASIH LHO TRAKTIRANNYA MUAH!

Qu Cinta Gratisan,
Theniarti Ailin

Wednesday, January 6, 2016

RANDOM CONVO WITH RANDOM KONCO

Gue akan memberi tahu kalian 1 hal menakutkan dan sedikit mengagetkan. (Yang punya penyakit jantung, kanker paru-paru, alergi boraks serta cacar air, mending keluar dari blog ini sekarang juga sebelum penyakit anda bertambah parah, atau jika anda punya harapan untuk sembuh, teruslah membaca.)

Oke, kalian siap?

Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi? ~ #salahfokus

HARI INI ADALAH HARI PERTAMA SEKOLAH SETELAH LIBURAN NATAL-TAHUN BARU YANG AGAK SEDIKIT PANJANG (ANJRIT, CUMA 2 MINGGU.)

Sialan.

Kita sama-sama tahu bahwa adaptasi untuk sekolah seperti biasa setelah liburan yang amat agak sedikit panjang adalah hal yang paling menyebalkan daripada nasi keras. Apalagi, hari pertama langsung belajar seperti biasa tanpa embel-embel perkenalan dan pulang pagi lebih dulu.

Kita sama-sama tahu bahwa itu melakukan tindakan semacam itu kepada murid-murid SMA unyu adalah perbuatan yang agak taboo.

Kita sama-sama tahu bahwa kita sama-sama ragu, tapi ada-ada saja yang membuatku yakin padamu. ~ #salahfokusjilid2 #gagalmoveon

Tapi, mau diapain juga sekolah nggak bakal peka sama kode murid yang pengennya pulang pagi pas hari pertama.

Kalo diibaratkan sama cowok dan cewek, mungkin guru-guru itu ceweknya, murid-murid itu cowoknya, yayasan itu ortu dari si cewek. Intinya, sekolah tergabung antara orang yayasan dan guru-guru di mana mereka ada di kubu cewek, dengan kata lain, THEY'RE ALWAYS RIGHT. Sedangkan murid-murid? Ye ileh, ngikut aje kite mah.

Seperti yang kalian tidak tahu, gue setiap hari pulang dianterin sama orang paling setia yang pernah gue kenal di mana dia akan selalu menunggu gue dengan keringat yang membasahi lehernya di perempatan jalan toko tiga.

Sayangnya, di udah beristri. Mungkin kalo dia om-om yang biasa main kasino, gue mau pacarin. Kelihantannya, dia lebih jago main bekel. Gue alergi biji bekel, bisa bikil gatel, sih.

Omong-omong, angkot yang gue naikin itu angkot nomor.... (ada, deh.) #KayakAdaYangMauTahuAjaLin

Kalian pernah naik angkot, gak? Kalo misalnya pernah, biasanya duduk di mana? Kalo gue sih, tergantung sama emak-emak yang ada di sana. Kalo gue disuruh geser sampe ke ujung, ya gue nurut. Kalo dia suruh gue lebih baik duduk di atas, gue juga nurut, lagian di sana adem dan gak perlu desak-desakan. Kalian bisa menguasai oksigen semau kalian di sana! HAHAHAHAHAHAHA.

Emang sih, sekarang banyak issue-issue tertentu yang bikin naik angkot jadi sesuatu yang menyeramkan dan me-naboo-kan, gara-gara ada banyak pemerkosaan (jiwa), perampasan (ingatan masa lalu), serta kadang suka terjadi penculikan (hati) di angkot. Bukannya masuk koran, malah masuk jadi salah satu cerita di official Line@ account, di mana pemerkosa, perampas, dan penculik serta yang diperkosa, yang dirampas, dan diculik tidak melapor polisi atas pelecehan yang mereka terima, tapi malah jadi saling sayang. Uh.

Gue rasa gue lagi nge-lag. Firasat gue, mulai basah, nih. (Kepala gue maksudnya, basah gara-gara keringet.)

Oke, lanjoot.

Gue sih saranin kalian buat jangan sendirian kalo naik angkot. Kalo misalnya emang ada temen yang kebetulan naik angkot yang sama, ya kalian bareng aja. Siapa tahu nanti naik pelaminannya juga bareng. UUUUUUh.

Gue sendiri biasanya naik angkot sama temen gue. Sayangnya, dia sesama jenis. Orangnya yang kemarin yang nulis cerita saiko itu. (Astaga, kelihatan dah temen gue cuma dia doang. Itupun bayaran. Hadeh. Bayaran dia kemaren udah masuk belom, ya?)

OKE, FOKUS.

Kebetulan, tadi kami punya percakapan menarik yang bisa gue bagi di sini. (Sekalian, gue mau nanya pertanyaan penting yang mungkin akan mengubah hidup gue.) Dan ini semua berawal dari:

Waktu SMP, guru Bahasa Indonesia gue (BTW DIA MIRIP VIN DIESEL, sama-sama botak.) pernah bilang kalo misalnya:

"Kalian itu kalau mau pacaran pertama kali cocoknya jangan sekarang. Waktu SMA paling pas. Selain belajar menghargai pasangan, mental kalian juga diuji. Khususnya yang cowok."

Setelah pak guru ngomong begitu, (waktu SMP) gue jadi berniat buat pacaran pas SMA.

Sekarang gue udah SMA.

Apa yang terjadi?

Setelah tahu kalau bisa aja apa yang selama kita pikir rasa suka itu cuma sekadar penasaran doang, gue jadi sangsi sama diri gue tiap ngelirik ada yang baik, ganteng, serta anak pemilik perusahaan genteng. Gue bahkan nggak kepikiran sama sekali buat melepas status jomblo gue yang berharga ini sekarang. Gue dan teman gue satu itu juga tahu kalau SMA cuma hadir sekali dalam lingkaran kehidupan kita, dan setahun lagi kami bakal lulus. Mungkin tanpa pengalaman percintaan sama sekali.

Lalu, apa karena nggak pernah pacaran kita bakal jadi perawan tua yang nggak tahu caranya bergaul sama cowok? Astaga, itu lebih serem dari ketelak nasi keras.

Setelah itu, gue yang anaknya penuh antisipasi akan segala sesuatu bertanya, "Jadi biarawati gaul tuh boleh nggak, sih? Maksudnya tuh, yang bener-bener gaul. Yang tahu artis zaman sekarang, yang kalo ngomong pake gue-elu, yang mungkin nonton stand-up comedy, yang tahu cara main Instagram, Path yang bener. Pokoknya, nggak gaptek."

Iya, gue antisipasi mau jadi biarawati aja, daripada jadi perawan tua. Heleh.

Terus teman gue membalas, "Dosa lu kebanyakan buat jadi biarawati."

Sialan. Pupus sudah antisipasi gue.

TAPI GUE BENERAN PENASARAN.


Penuh rasa penasaran,

Theniarti Ailin

Sunday, January 3, 2016

Keluhan Hati Nyamuk di 2016

Met aoen bawrue, yea.
.
.
.
.
.

Mowega panjuang oemoer. Eyat eyayu iyah!,.
.
.
.
.
Dah.

Nissin wafer enak juga lho.

ANYWAY, hey!

Bagaimana tahun baruan kalian?
Gimana resolusi tahun 2015 kemarin? Apakah berhasil?
Rapot gimana rapot?
Kalo jodoh, kalo jodoh? Gimana? Dapet, nggak?
Kawin, kawin? Kapan kamu kawin?

Oke, gue terdengar seperti mami-mami kebelet punya cucu.

Mami-mami tuh paling suka ngomel kalo anaknya digigit nyamuk. Apalagi, kalo cucunya punya kulit pinky-pinky tumbrlish gitu, pasti mereka bilang kalo cucunya digigit nyamuk, terus ngomel deh ke anaknya, abis itu dia mulai cerita, "Mami tuh dulu nggak pernah lho biarin kamu sampe kegigit nyamuk demi kulit kamu biar gak merah-merah. Terus sekarang kamu malah kawin sama vampir!? Liat tuh anak kamu! Kulitnya jadi pucet pink-pink gitu! Mau jadi apa dia? Mau kamu kawinin sama serigala, hah?!"

Sorry, kawin sama serigala/vampir tampaknya sedang tren tahun 2015 kemaren.

Eh, tapi fokus dulu. Ada 1 lagi yang ngetren juga. Tren jadi nyamuk.

Bukan, bukan tren nusukin kulit-kulit manusia di Mall atau pasar sambil ngisep darahnya. Tapi, nyamuk yang itu lho. Yang itu lho... tau, kan? EHEHEHEHE.

Biasanya 'nyamuk' ini selalu ada ketika ada pasangan yang lagi ngedate. Entah untuk foto-fotoin pasangan ini, ataupun supaya pasangan ini tidak terlihat terlalu mesrah di depan umum, jadi kamuflase gitu.

Memang, 'nyamuk' ini terdengar kasihan sekali. Gue nggak habis pikir. Mereka ini bodoh atau gimana, sih? Kenapa mereka mau diperbudak oleh pasangan-pasangan mesra? Ckckckck.

Astaga, gue kok kayak ngomongin diri gue sendiri? Ckckck, gue nggak habis pikir.

Balik lagi soal nyamuk, kenapa sih 'nyamuk' ini disebut nyamuk? Padahal, para 'nyamuk' ini nggak sepenuhnya kayak nyamuk yang kerjaanya ngisep darah dan ganggu manusia, kok. They're pretty useful. 

Jadi, gue, sebagai perwakilan dari 'nyamuk-nyamuk yang hatinya berkecamuk butuh dipeluk namun terlalu lapuk' ingin berorasi.

Silahkan menikmati orasi gue. Semoga Soekarno yang mungkin lagi nge-scroll IG atau nge-check kompas dot com nggak malah nyasar baca blog gue dan meringis tentang anak-anak muda zaman sekarang.

Jeng. Jengggggg. Jeng.

Jakarta, pas tahun baruan, berisik, banyak kembang api,
Dengan hormat, 

NNGEIIIIIIIIIIINNNTTTTTTTTTT. Saudara-saudara! Sebangsa dan seperantauan! Bagaimana NGIIIIIIIIIIIIITTTTTTT kabar anda semua?!?! NGEEEITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT. 

Pertama-tama NGEEEEEEEIIIIIIIITTT, saya ucapkan terima kasih kepada rekan NGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIIIIIIIITT nyamuk saya di luar sana yang merasakan perasaan hampa seperti saya NGEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIT serta diharapkan jika para pasangan yang mampir di sini akhirnya bisa mengerti perasaan kami setelah membaca hal ini. DASAR!!! KALIAN TIDAK TAHU DIRI!!! BAYAR HUTANG NGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIIT KALIAN!!! DOMPET KAMI TERKIKIS!!

Maafkan saya yang sedang terbakar emosi. Jiwa saya berapi-api. SHIAL!! SARANG NYAMUK SAYA DIBAKAAAAAAR!!!!! 

Oke, saya percepat saja surat saya ini. NGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEITTT. Saya ingin bilang bahwa. NGEIIIIIIIIIIIIIIITTTT, tolong, jika kalian para pasangan membawa kami sebagai nyamuk ngedate anda, bayarin makan. Tanggung jawab atas raga kami yang lapar, jiwa kami yang haus. Kalau perlu carikan jodoh yang mapan, rajin, pandai, anak CEO perusahaan properti, ya pokoknya gitulah.

AAAAAAAHHHHHH SARANG NYAMUK SAYA SUDAH HABIS. SAYA PERGI DULU, YA. SAMPAI JUMPA DI LAIN WAKTU. MET TAHOEN BARU. WAAAAARGHHH!!!


                                                                                                                              Penuh cinta,
                                                                                                                              Nyamuk.

Hehehe. Buat yang sering gue nyamukin, jangan tersinggung ya bacanya. Gue hanya membagi perasaan gue jadi nyamuk. HIKSSSSS! Tapi, gue seneng kok jadi nyamuk. Walaupun dicuekin, gue jadi bisa belajar. Belajar buat... bedain mana restoran yang murah tapi uenak, mana yang mahalnya ngadjobilah tapi porsinya buat kasih makan semut api.

Jadi, terima kasih sudah menjadikan gue nyamuk kalian!

BUT, REMEMBER. TAKE A NOTE:
THIRD WHEEL DOESN'T NEED TO PAY THE BILL.
SO, ONCE YOU INVITE, THEN TREAT US AT LEAST IN AMERICAN GRILL.

*kasih senyuman penuh kepuasan akan kejahatan*

Salam NGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIIIT,
Theniarti Ailin