Wednesday, May 14, 2014

16 Tahun Lalu

Petir menyambar
Seolah melatarbelakangi
Suara-suara teriakan manusia
Bukan teriak bahagia
Bukan pula sebuah kelakar
Melaikan sebuah rintihan
Mengadu,
minta belas kasihan

Lautan manusia yang mula-mula tenang
Berubah menjadi api-api manusia
Yang berkobar sia-sia
Yang terbakar oleh rasa nafsu
Dibumbui dengan dendam dulu
Diiringi suara-suara peluru

16 tahun berlalu
Setelah kejadian penuh peluh 
Setelah rasa antipati manusia sudah luluh

Namun,
Walaupun sudah berlalu,
16 tahun tidak akan dilupakan
Tidak akan dihembuskan dari pikiran

Karena,
16 tahun lalu adalah
peristiwa yang membuktikan,
bahwa;
manusia dan binatang;
sama dengan sederajat.

P.S: Sebenrnya, gue baru pulang dari KidZania, gak pantes bikin puisi begituan. Ini cuma sekedar iseng aja, sih.

P.S lagi: Sebenrnya, ini mau dipost kemaren. Tapi, udah malem. Jadi, gak jadi.

P.S lagi lagi:  Sebenenrya, post sebelumnya udah gue tulis sejak 2 minggu lalu. Tapi, ternyata, mungkin gue belom pencet 'publish'. Nge-blog selama 2 tahun, gue tetep gaptek.

Monday, May 12, 2014

Selamat jalan, Pak!

Jadi gini ceritanya, gue awalnya udah berencana nulis blog. Tapi, gara-gara banyak disturbance, jadi gue tunda-tunda. Yah, biasalah. Pembingung hal gak penting ini udah sibuk. Sama pemotretan diri sendiri (also known as SELFIE.)

Oh, ya. Selfie itu bisa digolongkan sebagai kategori kegiatan sibuk, gak? Bisa. Iya. Anggep aja bisa, lah, ya.

Selama... um. Berapa bulan? Maret, April. Ya, 2 bulan lebih ini, banyak banget yang terjadi. Gue kadang sampe sulit banget nerima kenyataan. Kayak sekarang ini.

Minggu Kemaren...

Minggu Kemaren...

Oh my god. Pak Paulus. Pak Paulus. Pak Paulus... meninggal.


Terus terang aja, sampe sekarang gue masih gak bisa nerima kenyataan. Kayak, kita sama-sama aja baru... like 2 tahun lebih. Gak sampe 3 tahun. Terus, gue dan temen-temen yang lain, bahkan belum lulus.

Gue emang gak gitu deket sama pak Paulus. Tapi, gue punya masa-masa juga diajarin sama pak Paulus.

Salah satunya adalah, diajarin main gitar dan baca not balok. Gue bener-bener ingeeeeet banget. Dulu, pas gue kelas 8, gue berniat sangat pengen bisa menguasai gitar kayak beliau. Sampe akhirnya, setiap selesai pelajaran seni budaya (kebetulan pas istirahat), gue selalu tanya-tanya sama beliau gimana caranya mainin kunci C, D, E, G, A, B, dan lain lain. Pak Paulus bener-bener baik banget kalo ngajarin gue main gitar. Kadang, dia sampe gak istirahat gara-gara ajarin gue main gitar. Bukan kadang, sih. Tapi, sering.

Dan dari air mukanya, gue tahu dia niat ngajarin gue main gitar. Walaupun, sampe sekarang gue masih gak bisa.

Oh, ya. Kalo gue gak bisa-bisa kalo diajarin, beliau selalu bilang, "Nanti di rumah coba lagi, ya. Pasti bisa, kok!" 

See? He is a such great teacher. Semangatin muridnya, ngajarin sampe muridnya bisa, bahkan, sampe ngorbanin waktu istirahatnya demi ngajarin muridnya supaya bisa.

Makasih, Pak. Atas guitar lessonsnya. Hahahaha. Itu berarti banget buat saya, Pak. Maaf ya, pak. Gara-gara saya, bapak gak bisa istirahat di jam istirahat. Pak, maaf ya kalo saya suka buat bapak marah. Maaf ya kalo saya suka buat bapak kesel. Maaf maaf maaf. Cuma itu yang bisa saya keluarin dari mulut saya. Pak, bapak pasti senang, rasa sakit bapak udah gak bapak rasakan lagi. Karena, pasti, yang sekarang bapak rasakan adalah kedamaian... Oh ya, Pak. Doakan saya dan teman-teman ya supaya bisa ngerjaiin ujian dengan baik dan benar. Doain kita juga supaya cita-cita kita bisa tercapai!
Oh, ya. titip salam buat Tuhan Yesus. Hehehe.

Engkau lilin-lilin kecil,
Sanggupkah kau berpijar,
Sanggupkah kau memberi,
seberkas cahaya?

Selamat jalan, Pak. Terima kasih atas segalanya.
 

Thursday, February 6, 2014

Selamat Ulang Tahun, Carissa!

Hujan.
Tidak tentu kapan turunya.
Bagaikan remaja yang baru mimpi basah.

Hujan.
Rintiknya yang pasrah.
Jatuh ke tanah.
Bagaikan manusia yang menyerah.

Hujan.
Walaupun terlihat rapuh,
tapi tetap teguh.

Berhenti.
Ini bukan tentang hujan.
Ini tentang kamu.

Jadilah seperti hujan.
Yang kelihatannya rapuh,
namun teguh.

Terima kasih telah jadi temanku.
Terima kasih telah membuat tersenyum.
Semoga kamu bahagia.

Selamat ulang tahun.

Jakarta, 6 Februari 2014.
-Theniarti Ailin

Saturday, January 11, 2014

It All Started With a Plane

FanFiction ini diambil dari novel Refrain&Melbourne karya Winna Efendi.

Ku genggam tangan Nata erat-erat sampai kuku-kuku jariku -yang belum sempat kupotong- membuat tangan Nata menjadi lecet.

Aku benci baunya. Aku benci tempat duduknya. Aku benci jendelannya. Aku benci sayapnya yang selalu bisa kulihat ketika aku menengok ke jendela. Aku benci segalanya yang ada di tempat ini. 

Ku penjamkan mataku, memulai doaku yang entah sudah berapa kali. Akhirnya, Nata angkat bicara, "Niki, gak usah panik. Just try to face your fear." Mungkin, tangannya sudah mulai kapalan karena ku genggam terlalu erat. Aku membalasnya, "I'm trying, mate." Bohong. Nyatanya, yang kulakukan dari tadi hanyalah terus mengumpat dalam hati. Dan tidak mencoba melawan ketakutanku.

Pesawat. Aku membenci benda ini. Ialah yang membuat temanku Laura, mati begitu saja. Aku sangat-sangatlah menyalahkan pesawat atas semua ini. Aku tahu, pilotlah yang mengendarai benda ini. Dan cuacalah yang menentukan terbangnya benda ini. The point is, I hate plane.

Jangan salah perngertian, aku membenci pesawat. Bukan "Aku benci naik pesawat."Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi, aku punya alasan. Alasan yang membawa pikiranku menapaki masa lalu.
--
"Gila, Nik! Gue gak percaya gue ada di dalem pesawat sekarang!", kata Laura, girang. Akupun terbawa suasana, dan ikut menjadi norak juga. "Iya! Kita kan harus gapai cita-cita kita setinggi langit! Dan, thanks to the plane yang udah membawa kita ke atas sini!" Laura membalas, "Dan yang kita lakuiin cuma duduk aja. Wow. How coo-"

Omongan Laura terpotong ketika pesawat yang kami naiki tiba-tiba berguncang keras. Dan seolah menjadi semakin keras seiring berjalannya waktu. Laura langsung memelukku, kemudian yang kurasakan hanyalah guncangan yang amat keras. Dan aku tak ingat apapun lagi.
--
Kubuka mataku untuk meihat sekitarku. Ku lihat jeansku yang robek, luka luka di tanganku, dan Laura yang masih kupeluk. Detak jantung Laura masih berdetak, walaupun lemah. Ku pandang wajahnya yang kusam dan penuh luka. Beberapa menit kemudian ia sadar. "Hei, Nik.." sapanya lemah. Aku tersenyum. Kemudian ia berkata lagi, "Muka lo masih cantik ya. Muka gue pasti ancur sekarang..." bisiknya lemah. Aku menggelengkan kepalaku. Terlalu lemah untuk bicara.

"Nik, kalo misalnya hari ini adalah hari terakhir mata gue terbuka lebar, gue akan bahagia di surga. Karena orang yang terakhir gue lihat adalah, sahabat gue. Please janji sama gue, lo harus lanjutin perjalanan kita ke Melbourne. Dan yang terakhir, jangan nangis liat gue mati. Semua orang di dunia ditakdirkan buat mati. Karena mati adalah akhir cerita dari sebuah buku hidup seseorang. Satisfaction in our life, is to be dead."

Aku memeluknya sambil terus menangis. Aku mendengar langkah kaki seseorang yang datang ke arahku, seseorang itu menghampiriku. Kemudian berkata, "Ayo! Cepet! Bentar lagi bakal turun hujan! Lo bisa berdiri kan? Biar gue yang gendong temen lo!"

Ku coba untuk mengangkat tubuhku. Tidak. Aku tidak bisa berdiri. Kemudian, aku berusaha kembali. Orang itu melihat ke arahku, "Gue rasa kaki lo patah! Tunggu di sini sebentar, ya!"

Tak lama kemudian, beberapa orang berdatangan dan menggendong jasad Laura. Aku dibantu berjalan oleh laki-laki yang menemukanku dan Laura kali pertama. Kulihat wajah laki-laki itu. Rambutnya cepak dan berkeringat. Lesung pipitnya sesekali menampakan diri.
Tiba-tiba, ia berkata, "Nata." Ia tersenyum padaku. Aku juga membalas senyumnya dan berkata, "Niki."

And it was the new chapter of my life. Akhir cerita persahabatanku dengan Laura. Dan awal perrcintaanku dengan Nata.
--
Kurasakan air mata mulai jatuh ke pipiku. I missed Laura so much. Kugenggam semakin erat tangan Nata. Kemudian, Nata menoleh ke arahku dan berkata, "Hei, Nik. Lo pasti tahu betapa sedihnya Laura karena lo baru bisa nepatin janjinya 5 tahun sesudah jatuhnya pesawat," Aku menjawab, "Susah, Nat. Ngelawan ketakutanku itu susah. Aku takut, Nat. Takut. That's it."

Nata berkata, dan mencium keningku, "Semua ketakutan lo itu berasal dari masa lalu lo. Jadi, lupain masa lalu lo. Karena masa lalu lo, lah yang membuat lo jadi takut kayak gini."

FIN.

Friday, December 20, 2013

My Absurd Childhood

Yeay! Christmas breaks start todaaay!

Eh, um. Yang diatas artinya apaan, ya. Tadi gue dapet di tweitter. Eh, twitter.

Kemaren, sekolah gue ngadaiin classmeet. Tau, kan? Pertemuan kelas gitu. Oh? Salah, ya? Terus apa, dong?

Kenapa gue jadi ngomong sendiri begini?

Jadi, classmeeting itu kayak lomba gitu. Ah, pembaca pembaca gue kan update semua. Pasti tau, laah. (Iyalah, gak kayak yang punya blog ini.)

Jadi gini, suara gue hampir abis gara-gara ngedukung kelas gue. Dan tetep aja, kelas gue masih kalah. Dibabat abis 83-26. Hiks.

Gak apa-apa lah, yang penting mereka sudah berusaha semampunya. Hasilnya gimanapun juga, tetep keren dimata gue.

Widih, gue abis kesambet.

Dan hari ini, gue ambil rapot. Hasilnya sih biasa-biasa aja. Tapi, guenya nambah kok. Nambah jelek? Bukan. Kadar ke-kurang cantikan gue bertambah.

Kadang, gue bingung sama orang yang punya bulu ketek kerting. Caranya gimana, sih bisa begitu. Apa turunan kali, ya. Udah keriting, kadang panjangnya juga gak ngotak, bro. Masa bisa nyampe sikut begitu.

Emangnya kenapa, Lin? Lo mau punya bulu ketek begitu?

Kagak, sih. Tapi, indah gitu. Meliuk-liuk gak jelas. Gue sangat menghargaii, itu karya seni. Ukiran-ukirannya itu loh, udah kayak tulisan Bulgaria.

Eh, ini napa gue ngomong random begini sih. Ngomong sendiri lagi.

Tadi, temen gue. Sobat absurd gue, dateng ke rumah gue. Terus, kedatangan dia emang selalu menyebabkan aib besar gue terbongkar. Bukan lain, bukan hantu, Velia. (@veliafindriani)

Yak, ketika dia di rumah gue, secara tidak sengaja (atau sengaja) file file video aib waktu gue masih kecil kebongkar.

Gue gak nyangka masa kecil gue begitu absurd. Pertama, si Velia buka video waktu gue sama temen gue, Vivian lagi gak jelas gitu. Mejeng-mejeng depan rumah sambil nyanyi lagu natal yang liriknya lupa. Dan gak lupa sambil gaya chibi-chibi. Ups, bahkan sebelum ada gaya chibi-chibi, gue sudah melakukan gaya itu duluan. Gue jadi merasa ter-kopi. :( Di video itu, gue dan si vivian mejeng juga depan rumah gue sambil bilang, "INI RUMAH AKU!" Enggak. Kita gak rebutan rumah.
dan tanpa hentinya gue menggayakan gaya chibi-chibi itu pas kamera lagi menyorot gue.
(th. 2004)

Oke, itu masih normal. Bagi gue itu normal. Buset, kadar kenormalan gue kok begini, ya..

Terus video kedua, ada gue sama Vivian lagi joget. Musiknya kayak yang slow gitu. Vivian sih jogetnya menghayati. Mulai dari mulut yang diturun-naikin, mata yang dimeremin, tangan yang dikepalin sambil diturun-turunin, sampe berlutut dibawah tanah. Persis orang ngeden deh intinya. (entah kenapa deskripsinya banyak, intinya cuma 'ngeden')

Gerakan gue? Muter-muterin si Vivian kalo dia lagi berlutut sambil kibas-kibas rambut gue, lompat-lompat gak jelas, sampe goyang pantat juga ada. (Lagu slow aja ada goyang pantat.)


Lumayan lah, masih agak normal. Dikit.
(th. 2006)

Video yang ketiga, ini agak melenceng dari normal. Jadi, ceritanya sama. Gue joget. Tapi, bedanya, ini gue joget sama anak kecil. Regine, namanya.

Gue nyanyi 'Topi saya Bundar' nah, terus si Regine nanti ikutin gue. Itu sih masih normal awal-awal. Terus, pas pertenahan, entah ada alasan apa gue bilang, "HOAAAH! NGANTUUKKK!!! MAU TIDUR AAH!" Terus pas gue jatoh ke lantainya itu gak enak banget.

Pertama, pantat gue nugging. Gak enak diliat. Terus rambut gue udah kayak singa. Jadilah gue kayak singa betina yang terkapar.

Dan alesan gue bilang begitu adalah, adalah, adalah, mungkin gue lupa pake jenggot. (Emang. Gak ada hubungannya, kok. Tenang aja.)

Terus, pas abis bangun dari tidur nungging tadi, gue nyanyi 'Heli guk guk guk' terus akhir-akhirnya malah jadi, "ITULAH SI BIBO!!"

...gue tambah gak ngerti lagi.

Dan abis itu gue lompat-lompat, sambil goyang goyang pantat, sambil bilang, "SI BIBO! SI BIBO! SI BIBO! YEAY!!!!"

...ntah siapa juga si Bibo.

Level: Mendekati hard.
(th. 2007)

Video yang keempat adalah, joget juga. Ini bertiga. Ada vivian, Wilson, sama gue. Ceritanya, susuk gue pasang musik gitu yang khusus buat joget. Awalnya, kita bertiga cuma lompat-lompatan.

Terus, wilson memulai dengan bukannya joget, malah pengen morotin celananya Vivian. Terus, karena berabe, si Vivian duduk. Emang si Wilson dari kecil udah hebat, ya.

Nah, abis si Vivian keluar, gue mendekat ke kamera dan menggerak-gerakkan tangan gue kayak pesulap. Sambil mencoba membuat muka gue jadi kayak wanita misterius, namun gagal. Gue malah kayak wanita kebelet BAB berhari-hari.

Terus, gue mulai joget-joget sama Wilson. Gue mengulang gerakan itu. Tapi, kali ini, sambil gue bengkokin kaki gue (yang kayak iklan tori-tori) sambil goyang-goyang pantat. Gue gak ngerti darimana gue dapet gerakan semacem itu.

Abis itu, gue nyoba kayang. Tapi gagal. Abis itu, pas lagi kayang muka gue, gue buat jadi lebih misterius, tapi malah jadi kayak orang kelaperan, tapi pengen BAB.

Level: Hard
(th. 2008)

Anak-anak yang pernah joget sama gue, gedenya jadi begini:

Regine (baju merah)

Vivian

Wilson
Gue rasa gue ada foto jadul mereka. Wait.
Wilson masa kecil

Vivian masa kecil hihihi. Unyu, ya.

Ki-Ka: vivian, Wilson, Gue

Gue masa kecil. Mesum, yaak.
Kalo Regine gue gak ada hiks. Jangan sedih kawan-kawan.

Tanpa mereka semua, masa kecil gue gak akan bisa se-absurd ini. I'm happy to having an absurd childhood!

Credits to: Vivian (twitter: @vivian_chin13)
                 Wilson
                  Regine

Wednesday, December 11, 2013

COOKING BUMP!

HELLOO SEMUA!!!                   

Oke, jadi gini. Kedatangan gue kesini...

Sorry, salah.

Jadi gini, tujuan saya ke sini adalah untuk mempromosikan produk terbaru bernama...

Oke, salah lagi. Gue emang typo berkepanjangan.

Jadi...

STOP, LIN! LO BIKIN GUE KESEL. GUE GAK JADI BACA BLOG LO.

Hmm... yah, baiklah. Gue semakin tolol sekarang. Atau gue semakin berlete-lete dan makin nyolot. Makhlum, lah semakin besar, bakat anda akan semakin bertambah. Yah, lo semua tau bakat gue apa. Bertele-tele. Yeah. Gue bahkan gak tau ada bakat bertele-tele. Oke. Mari kita curhat.

Jadi, lusa kemarin, gue dan teman-teman SMP Ricci 1 baru aja kelar ulangan umum atau UAS atau test seberapa gobloknya elo atau Test pensil 2B lo asli apa kagak.

Yah, begitulah. Seperti melayang-layang diudara, terasa bebas dan gak ada beban lagi buat ditarik kedalam tubuh yang beban itu bakal masuk disaat kita menarik napas. Oke, kata-kata gue emang gak jelas. Biasalah, bakatnya aja berlete-lete.

Hmm, kayaknya gue harus mempertimbangkan bakat gue lagi. Antara typo atau berlete-lete, eh bertele-tele.

Lihat, baru bebas UAS aja gue udah merasa seperti macan. (serius, gue gak tau kenapa gue merasa seperti macan. Mungkin macan melambangkan totol-totol. Mungkin totol-totol artinya arsiran pensil 2B. Entahlah.)

Nah, setelah habisnya UAS, gue dan teman-teman gue yang lain pergi ke rumah salah satu temen gue, Patricia sang elang buat masak.

Sang Elang sedang mengepakan sayap.
Entahlah, dia emang sangat jago dalam terbang.

Jadi, ceritanya gini. Awalnya, gue lupa gue harus ke bank sebelum ke rumah si Patricia. Jadi, gue harus ngantri dulu di bank. Nah, setelah melewati antrian yang panjang, akhirnya gue nyusul ke rumah Patricia.

Sesampainya di sangkar sang elang, gue membuka pintu. Kemudian gue buka pintu kedua, gue liat kanan-kiri gak ada sepatu. Terus, karena ruangannya gelap, jadi gue masuk. Pas gue masuk, bener gak ada sepatu! Yang artinya, Patricia dan temen-temen gue yang lain (Elvan; sang pencari batang kayu, Stephanie; sang kurcaci yang tersesat dalam dunia nyata, Calvin; sang beruang kutub yang disihir menjadi manusia, dan Aswin; sang ncek yang mendadak berubah menjadi anak SMP.) belum datang! OH TIDAK. BAGAIMANA INI. APA YANG HARUS KULAKUKAN. AKU PIPIS DI CELANA.

Satu lagi, mungkin bakat gue adalah menyelinap masuk ke rumah orang tanpa ketauan meskipun ada CCTV. (emangnya siapa juga yang mau mantauiin gue? Eh, tapi CCTV bisa rekam ya?) *kemudian minder* *yah bakat gue berkurang satu* *yaah yah Yaaah YAAAH*

Oke, singkatnya, gue langsung keluar setelah pamit sama si anjing-item-dengan-muka-ramah punya si sang Elang. (Gue gak abis pikir elang miara anjing.)

Oke, jadilah gue mencari mereka. Dalam pernajalan menuju ke Alfamart, gue mendengar seseorang memanggil nama gue dengan suara fals, "WOI LIN! WOIII WOIIII BAYAR UTANG WOYYYY!!"

Oke. Salah naskah gue.

"LIN!! WOI!!! WOII!!!"

Yah, begitulah kira-kira. Setelah itu, gue bergabung bersama mereka. Dan kita jalan ke rumah Patricia bareng-bareng.

Sebelum masak, kita semua ke kamar Patricia dulu. Dan, lebih tepatnya, sambil menunggu si Elvan dan Aswin mengagumi kamarnya sang elang.

15 menit kemudian, Calvin, Aswin sama Elvan mulai beraksi.

See something strange here? Yak, yang masak adalah cowok-cowok. Yang cewek-cewek? Nonton Tv sambil tor-tor berjamaah. Oke, gak usah dibayangkan gimana, ya.

Karena gue kurang kerjaan, akhirnya gue merampas iPhone sang Elang buat foto-fotoiin foto blur ini. Ini dia proses pembuatannya:

Potong dulu bro, kolnya!

Abis itu dikumpulin, deh.

Terus masukin ke mangkok.

Terus masukin ke adonan ini. HEHEHE.
Jadi, ada yang tahu isi adonannya apa? 

Setalah gue wawancara sang pembuat, isinya adalah tepung protein sedang. (menurut elvan, sang pencari batang kayu, dia bilang jangan protein tinggi. Nanti jadinya roti. Gitu. (p.s: gue bahkan gak tau tepung pun ada protein-proteinya.))

Nah, abis itu pake kaldu ayam. Kalo gak ada kaldu ayam, yah... yah...BELI!  Oke, ini serius. Kalo gak ada kaldu ayam, bisa pake bumbu masak, kayak... *peep*. Tapi, lebih sehat pake kaldu. Gitu. (p.s: Gue bahkan gak tau kaldu itu sehat.)

Pake telor jangan lupa. Gue gak tau telurnya berapa banyak. Tapi, menurut perkiraan gue, si sang pembuat kayu a. k. a Elvan pake 4-5 butir telur. (p. s: Lu semua tau, daritadi ada curcolan gue tentang betapa bodohnya gue tentang beginian.)

Nah, abis itu kasih merica sama garam secukupnya. (p. s: SECUKUPNYA itu bukan definisi eksak. Jadi... jadi... gue gak tau cara jelasinnya gimana.)

Jangan lupa tambahin kol! Dipotong potong kayak gambar yang diatas :3 Saran Elvan lagi: Katanya kalo bisa kolnya lebih banyak dari adonannya. (p. s: Gue gak tau kenapa kol harus dibanyakin. Mungkin biar kayak somay. Banyak kolnya. entahlah.)

Nah, abis kol, teman-teman koki (Iko, Elvan, Calvin, Aswin) juga menambahkan daging sapi yang digoreng dengan tepung serta naget. (p. s: Sebenenrnya daging sapi goreng tepung gue ide-iin buat jadiin garnish. Tapi, karena mereka mau masukin, yah... yasudahlah. *jadi galau*)

Kalo lu semua kaya, bisa juga tambahin cumi sama udang, atau apapun yang lu mau sesuai selera. Kalo selera lu mantan lu yang dulu, ya, masukin juga.

Nah itulah isi adonannya. Semuanya diaduk yaaa. Nih beberapa foto adukan hasil kerjaan gue yang sangat kurang:

Diaduk ya sampe rata. Sampe semua memori tersimpan di... *kemudian jadi galau*

Lagi ngaduk apa lagi mikirin mantan, mbak?

ADUK SAMPE TUMPEHHHH!!! *jadi mad dog*
Hmmm, karena gue tidak profesional, jadi foronya jelek. HIHIHIHI.

Oh, ya. Karena, sebelumnya pada gak ada ide mau masukin apa selain kol, jadi teman teman koki masukin nugget.

Nugget: Aku sedih, aku kira aku digoreng buat dimakan. Taunya malah dicemlungin ke sini. Hiks :(
(N. B: Nugget punya HAN Hak Asasi Nugget)

Nah, menurut narasumber, gorengnya bisa pake wajan teflon atau hotplate. Jangan pake wajan biasa. Nanti tengahnya gak mateng lo semua mati. Kan gak keren. "Mati gara-gara salah pake wajan"

Biasanya, tiap sisi itu dikasih 3 menitan buat goreng. Tapi, itu tergantung tebel tipisnya. (p. s: Iya-iya aja udeh. Gue kagak ngerti.)

Nah, gorengnya sampe coklat keemasan yaaaaa. Sampe jadi gini:

Tuh wajan teflon. Kasian, jomblo dia.

By the way, cara goreng sapi goreng tepunya itu gampang. Hal yang diperlukan itu daging sapi, telor, sama tepung terigu. Nih fotonya:

Pertama, daging sapi celupin dulu ke telor.

Hasil foto gue bagus juga, ya.

Sapi: TIDAK AKU DICELUPKAN KE TEPUNG WARNA PUTIH. AKU KOTOR OH AKU BELUM KAWIN PADAHAL

Daging Sapi: TIDAAAAK! AKU MASIH JOMBLOHHHH
...dan daging sapi tersebut akan dimakan oleh para manusia jomblo.

Oke, abis digoreng bisa kalian masukin ke adonan tadi. Nah inilah jadinya setelah adonannya digoreng:

Eh. Bentar. Gue mau sisipkan foto-foto kucing patris dulu. HIHIHIHI. Sama foto-foto narsis lain. Oke.

EKSIS DULU BRO MESKIPUN GAK MASAK WAHAHAHA

Elvan: Aswin, pantat lu seksi juga.

Calvin: APA LO?

Awas upilnya jatoh mbak.

Ribut yuk.

Aduh, mau ribut gak yaaa.

Stephanie: Idih, adonannya kuning. Kayak hepatitis idih.


Calvin: Mari kita potong kol ini! ERH!

Patris: Enaknya nih kucing diapaiin ya?


Aswin: Gila, adonannya cakep juga. Tembak, ah.

Iko: Aku sang pendekar.
Here it is, Okonomiyaki.

Keren kan.... Hasil foto gue. HIHIHI.


Eksis itu penting, kawan.

Elvan kegirangan masakannya enak.

Elvan: Swin, liat tuh ada semut nginjek kaki lu. Aswin: Van, kita lagi pemotretan. Diem deh.


MEREKA: Beli Okonomiyaki kami atau kalian semua akan mati.
Yap. Sekian dulu cerita gue. By the way, okonomiyakinya enak, lho. Thanks kawan-kawan yang udah bikin! Yang udah gue ejekin di post ini! Wahahahaha.

(p.s: Yang namannya Anricco, dia punya blog, loh. Visit his blog di sini.)

Oke, semua. BYE BYE.

P.S: Gue.... Gue.... masih jomblo. Bye. Hari ini tanggalnya bagus padahal. Tapi, semua tanggal itu bagus, kok. Dan cuma terjadi sekali seumur hidup. :)) Udah ah gak usah banyak ngoceh. Bye bye!!!


                                                                                        

Monday, November 25, 2013

Jadilah Pembuka Mata

Suatu hari, tinggal seorang pengamen cacat di dalam sebuah kardus buangan pembungkus TV. Namanya Jaq. Ia tinggal sebatang kara. Orang tua Jaq membuangnya sejak dilahirkan, karena Jaq buta sepenuhnya sejak lahir.

Setiap hari, Jaq selalu berusaha mencari uang. Entah dengan mengamen, mencuci piring, bahkan jadi tukang parkirpun ia lakoni dengan sepenuh hati. Usia Jaq masih 15 tahun. Usia dimana anak-anak remaja lain sedang heboh-hebohnya memamerkan pacar mereka, sedang dengan "tidak tahu-dirinya" menghambur-hamburkan uang orang tuanya, dan usia dimana para remaja mulai sulit menerima apa yang sudah mereka punyai.

Ketika para remaja sedang melakukan semua hal itu, Jaq harus kuat mental tidap hari ditimpuki telur dengan segala orang kaya yang iseng. Harus banting tulang, walaupun ia buta dan masih belia, dan harus menerima kenyataan sulit bahwa ia buta dan ia telah dibuang orang tuanya.

Hari itu hari senin pagi yang hangat di Jogjakarta. Jaq menenteng-nenteng gitar lusuhnya, berjalan mantap menuju Candi Borobudur.

Sesampainya disana, ia merasakan kehadiran sebuah bus. Yang sepertinya bus ini berisi anak sekoalh yang sedang brekreasi. Terdengar jelas dari suara mereka yang riang gembira.

"Naik boleh juga, nih. Hehehe," kata Jaq dalam hati. Beberapa detik kemudian, sampailah ia di bus itu. Ia merasakan suasana yang hangat terhadap bus ini. Semua orang tertawa dengan keras, berbagi canda, dan lain-lain.

Satu per satu dari anak itu mulai menyadari keberadaan Jaq. "Eh! Ada pengamen!", kata seorang dari mereka.

Suasana bus langsung hening. Jaq memperkenalkan diri, "Selamat pagi semua. Namaku Jaq. Agak keren buat nama pengamen, sih. Hehehe. Kalo aku nyanyi disini kalian semua keberatan, gak?"

Semua anak tertawa ngakak, kemudian bilang, "Hahaha! Mau request lagu dong!!!"

Setelah seorang anak berkata begitu, seorang guru datang mausk ke bus, kemudian langsung menyambar dan me-request lagu. "Coba nyanyikan lagunya Ebiet G. Ade yang "Untuk Kita Renungkan'!"

"Yah ibu, masa lagu itu. Mana ada yang tahu buuuuu!!", keluh seorang anak.

"Kalian semua pasti akan kagum.", kata guru itu sambil tersenyum simpul.

Jaq memulainya dengan memetikan beberapa chords, kemudian mulai menyanyikannya.

"Kita masih telanjang dan benar benar bersih,
Suci lahir dan di dalam batin,
Tengoklah ke dalam sebelum bicara,
Singkirkan debu yang masih melekat"

Satu per satu anak mulai menyadarinya. Mata Jaq yang terbuka adalah buta. Mata Jaq yang dua-duanya daritadi menatap ke depan, ternyata adalah tatapan kosong. Semua murid mulai menganga lebar.

"Anugerah dan bencana adalah kehendaknya,
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah dia di atas segalanya

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauh

 Dalam kekalutan, masih banyak tangan 
Yang tega berbuat nista... 
 oh, Tuhan pasti telah memperhitungkan
 Amal dan dosa yang kita perbuat 
Kemanakah lagi kita kan sembunyi 
Hanya kepadaNya kita kembali 
Tak ada yang bakal bisa menjawab 
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Ho ooo... Ho ooooh...
 
Kita mesti berjuang memerangi diri 

Bercermin dan banyaklah bercermin
 Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
 Berusahalah agar Dia tersenyum... 
ho..du..du...du..du..du..du..du..du..du.
oh...ho...ho...ho...du..du..du..du.
Berubahlah agar
 Dia tersenyum"

Lagu selesai dinyanyikan, murid-murid mulai ada yang menangis. Mulai ada yang masih menganga semenjak tadi, sampai mereka semua sadar, lagunya sudah terselesaikan. Jaq bingung harus bicara apa. Mau meminta uang, ia takut, mau bilang terima kasih juga rasanya canggung sekali.

Seorang anak datang menghampirinya, "Jaq, you are such an amazing singer! Your guitar playing is... AWESOME, even, sorry, you are blind.. Lagu yang lo bawakan cocok banget sama kita-kita. Yang kadang gak mau bersyukur atas apa yang kita punya. Yang kadang gak mikir dulu kalo ngomong. Terima kasih Jaq, udah membuat hari pertama kita di Jogja jadi sangat indah. Oh ya by the way, nih."

Anak itu memberikannya selembar 50rb-an. Walaupun, Jaq tidak mengerti apa yang dikatakannya. Ia tetap tersenyum dan menghargainya.

Guru yang tadi me-request lagu, mengambil mic, dan mengambil posisi disebelah Jaq. Ia berbicara kepada para muridnya, "Anak-anak, kalian semua tahu dia adalah seorang tunanetra. Ia bisa main gitar, ia masih bisa tersenyum, ia masih bisa bercanda tadi, walaupun ia buta. Coba kalian lihat diri kalian sendiri, contohnya kemaren malam, gak bisa tidur aja mengeluh terus. Lapar, mengeluh, apa-apa mengeluh. Apa kalian tidak tahu banyak orang yang tidak seberuntung kalian? Hai, Nak. Coba ceritakan tentang hidupmu selama ini."

Jaq kebingungan, kemudian ia menjawab, "Umurku masih 15 tahun. Aku tinggal di sebuah kardus TV lusuh yang kalo disenggol mungkin langsung robek. Aku dibuang oleh orang tuaku sejak masih kecil, karena aku tunanetra. Aku harus berusaha membanting tulang untuk mendapat uang. Dan aku ingin sekali punya teman dan aku ingin sekali belajar di sekolah. Setiap hari aku ditimpuki telur busuk dengan anak-anak sekolah. Terus, karena aku gak punya teman, jadi gak ada yang bela, deh. Hehehe. Setiap hari belajar di kardus terus, jadi sumpek. Kan gak enak, aku selalu berharap aku bisa sekolah seperti kalian ini. Hehehe. Pasti asyik, ya."

Jaq melanjutkan kata-katanya yang kepanjangan itu, "Aku ngomongnya kepanjangan, ya. Hehehe. Makanya, kalian harus bersyukur, ya. Setiap masalah yang menimpa kalian itu pasti ada pelajarannya. Mungkin ini udah pasaran banget kata-katanya. Tapi, memang bener, loh. Oh ya, kalo misalnya kalian semua ini mengalami sebuah ketidakberuntungan, maka yakinlah hari esok lebih baik. Yakinilah, sebuah ketidakberuntungan itu adalah awal bagi sebuah keberuntungan besar. Hehehe. Sorry, nih jadi kepanjangan. Jangan ngantuk, ya. Hehehe."

Satu persatu murid mulai maju dan menyalami Jaq, mereka memberikan sejumlah uang, kadang ada yang memberikan makanan, dan lain-lain.

Setelah Jaq bergegas untuk pergi, guru yang tadi mengucapkan sesuatu padanya, "Hey. Terima kasih telah membukakan mata murid-murid saya. Walaupun kamu buta, yakinilah, kamu selalu bisa membukakan mata orang-orang normal. Tuhan menciptakanmu untuk menjadi seperti itu. Jadi, jangan pernah gak bersyukur, walaupun kamu buta. Sekali lagi terima kasih."

Jaq bergegas pergi, kata-kata ibu guru tadi terus terngiang di otak dan hatinya, "Jadilah pembuka mata bagi orang normal, walaupun kamu buta."

-the end-